Fransiska Ari Wahyu – detikinet


ilustrasi (inet)

Jakarta – Pengembang piranti lunak di Indonesia diminta lebih berani lagi dalam mencoba dan berbisnis. Moto just do it dari sebuah produsen sepatu pun diserukan untuk diikuti.

Seruan itu disampaikan Alan M. Davis, Professor dari College of Business di Colorado dalam seminar ‘Role of asia in Global Software Engineering in the Flat World’ yang digelar di Auditorium Kampus 3, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Senin (24/9/2007).

Menurut Davis, meski Indonesia tidak masuk 10 besar produsen piranti lunak dunia, sebenarnya Indonesia punya kesempatan menjadi pemain software yang handal. Salah satu faktornya, papar Davis, manusia Indonesia terbiasa bekerja dengan jam kerja 10-12 jam per hari.

Namun, ia menambahkan, orang Indonesia cenderung kolot dan bingung atau takut bila berada di depan. “Just do it! Seharusnya Indonesia itu just do it!” ia berseru.

Pelaku industri piranti lunak lokal, ujar Davis, harus lebih berani mengambil resiko. Di sisi lain Davis menggariskan perlunya kebijakan yang mendukung industri, selain dukungan dari publik pengguna.

Soft Skill

Masih di seminar yang sama, Inggriani Liem dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Karsono dari PT Astra Honda Motor (AHM)menuturkan pengalaman kerjasama yang telah digelar ITB dan AHM dalam menggali potensi sumberdaya Teknologi Informasi.

Keduanya beranggapan, sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian penting dalam proses rekayasa software. SDM dinilai sangat perlu dalam pengembangan produk piranti lunak, baik yang akan digunakan dalam operasional ataupun yang sifatnya penunjang.

Indri mengatakan, selain kompetensi teknis, perlu juga dikembangkan soft skill dari para SDM. Soft skill ini terkait dengan kepribadian. Tanpa kepribadian yang baik, SDM piranti lunak di Indonesia dinilai akan kurang lengkap. ( wsh / wsh )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here