Jakarta, Universitas Gunadarma berharap Indonesia Goes Open Source bisa melanjutkan proses sosialisasi hingga ke sekolah-sekolah. Kendala kurangnya pengguna warnet bersistim Open Source konon akibat kurangnya sosialisasi ini.

Hal itu diungkapkan Adang Suhendra, Kepala Jurusan Sistim Informasi, Fakultas Ilmu Komputer (Filkom), Universitas Gundarma. Menurut Adang, mayoritas pengguna warnet dari pelajar memerlukan sosialisasi.

“Perlu dukungan dari yang di atas. ‘Yang di atas’ maksud saya adalah Diknas, Ristek dan Kominfo. Mereka harus menunjuk sekolah sebagai target melakukan proses sosialisasi,” ia mengungkapkan kepada detikinet di sela-sela pelatihan Training of Trainers (ToT) Waroeng IGOS di Kampus D Universitas Gunadarma, Depok, Jumat (22/7/2005).

Waroeng IGOS adalah distribusi sistim operasi Linux yang dikembangkan oleh Universitas Gunadarma dan Badan Pengkajian Penelitian Teknologi. Waroeng IGOS dirancang khusus untuk warung internet yang ingin beralih ke Open Sourcw.

Kegiatan ToT itu sendiri merupakan kerjasama lima kementerian (Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Riset dan Teknologi, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Hukum dan HAM dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara) bersama dengan Universitas Gunadarma dan Asosiasi Warnet Indonesia.

“Diknas tinggal tunjuk sekolah yang mana, mau sekolah yang datang ke Gunadarma untuk training atau gunadarma yang ke sana,” Adang mengajak.

Menurutnya Gunadarma akan memfasilitasi mulai dari materi pembelajarannya, traning, tempat, serta instruktur. Pelaksanaannya sendiri tinggal menunggu dari ‘atas’, ujar Adang. “Kita kan sifatnya volunteer di sini,” ia menambahkan.

Mulai Dari Rumah

Sebelum mensosialisasikan gerakan Open Source, Universitas Gunadarma berinisiatif untuk membenahi lebih dahulu ‘rumah’-nya. Di kampus Gunadarma segala sesuatu yang berhubungan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKi), ujar Adang, diharuskan legal.

Menurut Achmad Benny Mutiara, Kepala Jurusan Teknik Informatika, Filkom, Universitas Gunadarma, pihak kampus telah menyerukan penggunaan software legal di linghkungan kampus. Ini mencakup pembuatan penelitian ilmiah, skripsi sampai ke pembuatan program atau aplikasi bagi mahasiswa yang mengajukan.

Untuk mengantisipasi kecurangan atau penipuan, lanjut Benny, setiap mahasiswa yang menyerahkan program harus menunjukkan lisensi software yang digunakannya. “Kita bisa lihat dari Serial Number-nya. Kalau ada kesamaan dengan temannya, misalnya, bisa ketahuan,” Benny mencontohkan.

Hal itu, lanjutnya, merupakan dukungan moral bagi mahasiswa untuk mensukseskan IGOS di Kampus. “Pokoknya semua yang berada di Gunadarma harus legal,” Adang menimpali.
(wsh/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here